SESAL KEMUDIAN TIDAK BERGUNA

24 Dec 2010

blogKenalanku, keluarga yang harmonis meski secara ekonomi tidaklah berlebihan. Si suami bekerja sebagai buruh pabrik minyak rambut terkenal di kotaku, sedang si isteri jualan kelontong di rumah mereka. Dikaruniai dua orang anak; yang pertama laki-laki kelas 7 SMP, dan ke dua wanita kelas 5 SD. Anak pertama di samping tampan, juga berotak cerdas. Selalu menjadi juara kelas sedari SD hingga SMP ini. Sedang anak ke-2 dikaruniai wajah yang cantik rupawan. Benar-benar keluarga bahagia yang harmonis.

Meski tempat kerja sang suami tidaklah jauh dari rumah, yakni sekitar lima menit jalan kaki, tapi mereka melengkapi diri dengan sebuah sepeda motor. Alasannya mumpung ada kredit DP Rp.0,- dengan angsuran yang amat terjangkau. Tak ada salahnya untuk kredit, terlebih jika dilihat manfaatnya untuk mobilisasi keluarga. Demikian alasan mereka saat ditanya para tetangga. Dan jika dinalar-nalar, betul juga pernyataan itu.

Karena jarak rumah dengan tempat kerja tidaklah jauh, maka si suami tetap berjalan kaki jika berangkat dan pulang kerja, sementara sepeda motornya ditinggal di rumah. Dan untuk lebih memanfaatkan sepeda motornya tersebut, maka anak laki-lakinya yang belum cukup umur untuk peroleh SIM, diajari menggunakan sepeda motor dengan harapan jika ada keperluan-keperluan tertentu selama sang ayah tidak di rumah, maka si anak tersebut yang diharapkan bisa menyelesaikan dengan cepat karena adanya sepeda motor.

Para tetangga sebenarnya ikut cemas, anak kelas 7 SMP dengan kisaran usia 12 s.d. 14 tahun koq sudah diijinkan berkendaraan pakai motor. Dia kan belum cukup dewasa untuk berkendaraan, terlebih belum cukup umur untuk peroleh SIM. Tapi si ayah berasumsi bahwa si anak termasuk anak yang bertanggung jawab dan tidak pernah “neko-neko” dalam kesehariannya. Dan memang betul, si anak memang tidak pernah ngebut apalagi ugal-ugalan dalam berkendaraan, dan menggunakan kendaraan hanya bilamana perlu saja. Lain dengan kebanyakan remaja seusianya, yang berkendaraan hanya sekedar untuk “wah”, suka kebut-kebutan, dan berkendaraan lebih untuk sekedar pamer yang tidak bermanfaat.

Suatu hari, anak pertama disuruh menjemput les adiknya. Berangkat dari rumah jam 16.50 dan semestinya sudah sampai rumah kembali jam 17.15. Ditunggu-tunggu hingga jam 18.00 belum juga kelihatan. Cemaslah mereka. Telphone sana telphone sini tidak ada hasil. Mereka berencana akan menyusuri jalan yang dipakai anak les, mencari informasi. Tapi baru saja mereka hendak keluar rumah, dua orang polisi datang, dan meminta mereka untuk segera ke rumah sakit. Lemaslah mereka, bahkan si isteri langsung jatuh pinsan mendengarnya.

Alhasil, telah terjadi kecelakaan lalu lintas. Anak pertama langsung tewas di tempat kejadian, sementara anak ke-2 koma di rumah sakit. Dua hari berikutnya anak ke-2 pun tidak tertolong lagi nyawanya.

Konon ceritanya, saat diperempatan Jl. A. Yani, posisi anak betul karena lampu hijau menyala dan berjalan melintas perempatan. Tapi dari arah samping kiri, meski traffic light merah, seorang remaja menggunakan sepeda motor ngebut menerabas lampu merah dan langsung menghantam motor yang ditumpangi kakak beradik tersebut. Si remaja ugal-ugalan tersebut telah memiliki SIM, sementara kakak beradik yang berlalu lintas secara benar, tidak ada SIM. Siapa yang salah?

Jika ditelusuri, banyak pihak ikut andil salah hingga terjadi kecelakaan lalu lintas tersebut, yakni:

  1. Remaja ugal-ugalan. Jelas, lampu merah seharusnya dia berhenti tapi tetap ngebut menerobos tanda larangan tersebut. Dalam UU Lalu lintas berarti melanggar pasal 287 ayat 2 yang berbunyi:Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau laranganyang dinyatakan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintassebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua)bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (limaratus ribu rupiah).
  2. Si Pengendara Kakak-beradik. Meski posisi dia benar, tapi tidak memiliki SIM adalah suatu kesalahan vital. Pasal yang dilanggar menurut UU Lalu Lintas No.22 tahun 2009 adalah Pasal 281, yakni apabila pengendara kendaraan bermotor tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) bisa dikenakan denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau di pidana kurungan paling lama 4 bulan.
  3. Orang Tua Pengendara Kakak-Beradik. Andil kesalahan orang tua adalah mengijinkan orang tidak memiliki SIM mengemudikan kendaraan bermesin di jalan raya.
  4. Aparat Kepolisian. Kesalahannya adalah setelah terjadinya kecelakaan lalu lintas tersebut, ternyata diketahui bahwa pengemudi ugal-ugalan tersebut masih kelas 8 SMP yang umurnya kurang dari 16 tahun. Kenapa di usia tersebut dia sudah punya SIM?! Itulah kesalahan aparat kita.

Bagi yang menginginkan Undang-undang RI No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bisa di download di sini.

Lepas dari benar ataupun salah, terjadinyakecelakaan lalu lintas memang tidak ada yang mengharapkan. Namun kita bisa meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas dengan menarik manfaat berdasar pengalaman di atas. Manfaat paling utama adalah agar kita lebih berhati-hati dalam berkendaraan. Safety riding musti selalu diterapkan setiap kali kita berkendaraan.

Bercermin pada kasus tersebut, orang tua mengijinkan anak belum cukup umur berkendaraan bermotor, apapun alasannya adalah salah. Anak belum cukup umur secara fisik-psikis belumlah matang untuk melakukan safety riding. Karenanya, dengan alasan apapun, anak dibawah usia dipersyaratkan memiliki SIM, sebaiknya tidak diijinkan berkendaraan bermotor di jalan raya. Tidak saja bisa merugikan anak bersangkutan, tapi bisa juga mencelakakan pengguna kendaraan yang lain.

Demikian barangkali sekedar apa yang terlintas dalam pemikiran saya. Saya berkeyakinan, lebih baik mencegah daripada kejadian. Dan salah satu upaya mencegah sebelum terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah: tidak mengijinkan anak-anak di bawah umur berkendara menggunakan kendaraan bermotor. Apapun alasannya. Karenanya, tepatlah pepatah para orang tua kita; Sesal kemudian tiada berguna. Anak jika terlanjur mengalami kecelakaan lalu lintas, berat atau pun ringan, terlebih sampai meninggal dunia, kita lah para orang tua yang rugi. Kitalah sebagai orang tua yang bersalah. Kita lah sebagai orang tua yang akan menyesal seumur hidup.

Semoga itu tidak akan terjadi pada diri kita dan anak-anak…..


TAGS blogger for safety riding


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post