SUTINI ANAK PENARIK BECAK

15 Dec 2010

Seorang gadis menyambutku saat aku memasuki halaman rumah, sepulang dari sekolah tempatku mengajar. Aku agak-agak bingung, siapa gerangan dia. Wajahnya masih membekas dalam ingatan, tapi nama serasa hilang dari memori.

“Assalamu’alaikum….. Lupa ya bu dengan saya?!”, ucap gadis itu menjabat dan mencium punggung tanganku.

“Siapa, ya?!,” tanyaku berusaha mengingat.

“Saya Tini, bu. Sutini. Mantan siswa ibu.”

“Tini?! Tini putranya pak Atmo itu ya?!,” ucapku sambil mempersilahkan Tini masuk ke rumah.

“Iya, bu. Betul. Pak Atmo Becak,” balas gadis itu terlihat senang begitu aku menyebut nama Bapaknya.

“Wah…. wah…. wah…. Sudah besar rupanya kamu sekarang.”

“Iya dong, bu. Lha tiap hari makan melulu. Jadinya cepet besar,” ucapnya bercanda.

“Gimana khabarmu sekarang?! Ibu dengar setelah lulus SMP dulu kamu diterima di SMA TN, ya?!”

“Iya bu. Tapi sekarang sudah lulus”.

“Wah, hebat. Gak kerasa, ya? Waktu demikian cepat berlalu. Perasaan baru kemarin kamu lulus SMP.”

Selanjutnya Tini aku suruh menunggu di ruang tamu, sementara aku berganti baju dan mengambilkan minum untuknya.

“Terus, apa sekarang kesibukanmu setelah lulus?!”, tanyaku setelah mempersilahkan Tini untuk minum.

“Itulah, bu. Saya sowan ke Ibu mau mohon do’a restu. Saya baru saja peroleh bea siswa untuk melanjutkan kuliah di Canada. Minggu depan saya sudah harus berangkat,” terangnya dengan wajah ceria.

Aku sebagai mantan gurunya, benar-benar terharu mendengar berita itu. Berita yang amat sangat membahagiakan dan membanggakan. Kutarik dia, kupeluk dan ciumi kedua pipinya. “Selamat ya Tin….. Selamat ya Tin,” ucapku tak kuasa menahan haru.

Aku jadi ingat akan kejadian beberapa tahun lalu, saat Tini masih menjadi siswaku. Sekali waktu dia datang ke ruang guru dengan wajah memerah menahan air mata. Dia langsung menghampiriku selaku wali kelasnya. Belum sempat berucap sepatah kata pun, tangisnya meledak. Aku yang merasa iba, merengkuhnya dan mengajak pindah ke ruang BK. Aku ambilkan segelas air putih dari dispenser, dan menyuruhnya minum. Kemudian aku serahkan selembar tissue untuk menyeka air matanya. Aku duduk di sebelahnya sambil memegangi bahunya.

Setelah agak reda, dia mulai bercerita. “Bu, Tini ingin keluar saja tidak sekolah”, ucapnya kemudian setelah tenang. Aku tertegun, tidak langsung menjawab. Aku pandangi dalam-dalam wajah siswaku ini, mencoba mencari jawab.

“Tini tidak tahan, bu. Tini selalu diejek teman-teman karena miskin”, ucapnya memendam marah.

Sebagai wali kelasnya, aku tahu kondisi keluarganya. Ayahnya hanya seorang penarik becak, sementara ibunya buruh cuci di kampungnya. Dengan kondisi ekonomi semacam itu, mereka harus menyekolahkan 3 anaknya. Yang terbesar Tini, yang saat itu masih kelas 1 SMP, dan 2 adiknya masih di SD.

“Jangan putus asa, nDuk. Tidak baik,” ucapku sambil menggenggam tangannya.

“Tapi Tini sudah tidak tahan, bu…,” suaranya tercekat menahan emosi. Isak tangisnya mulai terdengar kembali.

Naluri keibuanku tersentuh. Aku rengkuh bahunya dan tarik hingga kepalanya tersandar dibahuku. Aku biarkan dia menangis melapas sesak dihatinya.

“Tini,” ucapku dalam keheningan. “Pernahkah kamu berfikir bahwa kelak sekali waktu kamu akan menjadi seorang ibu?!,” lanjutku sambil mengusap lembut rambutnya. “Pernahkan kamu berfikir, bahwa mungkin anak-anakmu akan datang ke gurunya seperti kamu sekarang ini, dan menceritakan kesedihan karena dihina orang lain akibat kemiskinan orang tuanya?!,” lanjutku lagi sambil terus mengusap rambutnya.

Tini nampak tertegun akan ucapkanku. Dia beringsut agak menjauh. Sesaat ekor matanya melirik kearahku. Aku tersenyum menyambutnya.

“Kalau kamu tidak ingin kelak anak-anakmu menyalahkanmu karena kemiskinan, sekarang lah saatnya,” ucapku lagi sambil meraih punggung tangannya, kugenggam dan memberi sedikittekanan.

“Maksud Ibu?!,” ucap Tini ragu-ragu.

“Yah, sekarang inilah saatnya kamu merubah nasib,” jawabku tegas, mantap dengan tatapan tajam untuk meyakinkannya. Tini diam tertunduk.

“Masa depanmu ada di tanganmu, Tini. Baik buruknya masa depanmu, tergantung kamu sekarang ini.”

Tini masih diam tertunduk.

“Dan masa depanmu akan baik, jika kamu peroleh pendidikan terbaik dengan prestasi yang paling baik pula. Dan semua itu tergantung dari usahamu, do’amu, juga perjuanganmu sekarang ini,” lanjutku lagi.

“Tapi Tini kan orang miskin….. ,” nada ucap Tini melemah merasa putus asa.

“Apakah orang miskin tidak bisa berprestasi?! Apakah orang tidak berpunya tidak bisa peroleh pendidikan di sekolah terbaik?! Apakah kemiskinan menjadikan seseorang berputus asa karena masa depannya sudah pasti suram?!,” ucapku mempertanyakan konsep pemikiran Tini. “Di sekolah kamu ini, jika kamu berprestasi, kamu akan dapat beasiswa. Jika nanti lulus dengan nilai terbaik, ada kemungkinan kamu diterima di sekolah favorite dengan biaya negara; SMA TN, misalnya,” lanjutku lagi lebih meyakinkannya.

(To be Continued…..)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post