ABOUT ME

3 Dec 2010

Rina Setyasih, S.Pd.Saya hanyalah seorang ibu berprofesi guru. Terlahir dan di besarkan di kota kecil yang termasuk wilayah paling istimewa di Indonesia, yakni Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pendidikan dari TK sampai SMA aku jalani di sekolah-sekolah yang berjarak hanya +/- 100 m dari rumah orang tuaku di Perumahan Rakyat Blok E No.8, Trirenggo, Bantul Timur, Bantul. Sekolah tersebut adalah TK Jebugan-Bantul Timur, SDN Bantul Timur 1, SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Bantul.

Setamat SMA aku melanjutkan pendidikan di IKIP Negeri Jogja, yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Aku mengambil jurusan Ekonomi Koperasi pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, program Strata Satu (S-1).

Pada akhir masa studi, sebelum mengikuti ujian pendadaran, aku peroleh tugas dari dosen pembimbingku, yakni Prof. Suyanto, Ph.D. untuk menjadi observer penelitian tentang efektivitas pendidikan yang dibiayai oleh IBRD. Atas tugas inilah maka selama 3 (tiga) bulan aku harus berdomisili di kota Magelang.

Salah seorang kepala sekolah yang aku teliti menyarankan, daripada dilajo Bantul-Magelang, lebih baik aku kost saja di rumah pensiunan guru yang rumahnya hanya berjarak kurang dari 50 meter dari sekolah tempat penelitianku. Aku menyetujui dan diantar ke rumah tersebut.

Sebuah rumah sedherhana tapi cukup luas, hanya dihuni pasangan suami-istri yang sudah sepuh. Pasangan suami-isteri ini memiliki 8 (delapan) orang anak, tapi sudah pada dewasa dan hidup terpencar di kota-kota tempat mereka bekerja. Kehadiranku yang ingin kost di rumah mereka, membuat mereka amat sangat bahagia, karena akan ada yang menemani.

Kehidupan di tempat kost ternyata amat menyenangkan. Bapak dan ibu kost amat gemati dalam memperhatikan kebutuhanku. Aku dianggapnya sebagai anak sendiri. Karenanya aku benar-benar krasan.

Pada suatu sore, saat Bapak-Ibu kost pergi menghadiri pengajian di kerabatnya, datang sebuah mobil berhenti di depan rumah kost. Pengemudinya turun, dan langsung membuka pintu garasi rumah kost ku. Selanjutnya dia kembali ke belakang kemudi dan menjalankan mobilnya memasuki garasi. Aku yang belum mengenal orang tersebut, tentu saja bingung. Kalau aku biarkan, jangan-jangan dia orang jahat. Aku sambut, tapi takut juga. Akhirnya aku hanya diam menunggu.

Setelah mengucapkan salam dan memasuki ruang utama, orang tersebut nampaknya tidak terkejut melihat keberada’anku. Beda denganku yang amat tegang, sampai lupa membalas ucapan salamnya.

“Mbak Rina Setyasih, ya?”, ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk berjabat. “Saya Yuddy, putra pemilik rumah ini,” lanjutnya lagi.

Saya menerima jabat tangan tersebut dengan sikap tegang, bingung harus berucap apa. Terus terang saya heran, kenapa dia langsung tahu namaku, sementara aku tidak.

“Lho, ibu enggak pernah cerita tentangku, to?! Padahal di telphone kemarin ibu cerita panjang lebar tentang mbak Rina, lho!”, jelasnya melihat keteganganku.

Aku hanya diam mempersilahkan putra ibu kost tersebut untuk melanjutkan aktivitasnya. Selanjutnya dia ke belakang, memasuki sebuah kamar tidur yang mungkin kamarnya kalau saat pulang. Aku sendiri melanjutkan kegiatanku mengolah data yang baru aku dapat di tempat penelitian, sambil mendengarkan berita TV.

Setengah jam berikutnya mas Yuddy datang ke ruang TV dan duduk di seberang kursi tempatku duduk. Dia berbasa-basi menanyakan tugas penelitian sampai masalah keluargaku.

pranikah

Dari pengamatanku, mas Yuddy orangnya ramah, bicaranya pun enak. Dia ternyata berprofesi guru di sebuah SMP di kota Purworejo, yang berjarak +/- 50 Km dari Magelang. Karenanyalah dia kontrak rumah daripada ngelajo. Dia alumni program S-1 jurusan PPB FIP IKIP Bandung, yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Umurnya terpaut 7 tahun di atas usiaku.

“Assalamu’alaikum…..”

Sebuah salam mengejutkan obrolan kami. Spontan kami menjawab salam tersebut, dan berdiri menyambut kehadiran Bapak-Ibu kost.

“Wah, sudah saling kenal, ya?,” ucap ibu kost melihat keberada’an kami berdua. Kami pun mengiyakan.

Selanjutnya sore itu suasana akrab kembali tercipta di rumah kostku. Canda tawa Bapak-Ibu kost plus anaknya, terus terang membuatku terkesan. Betapa akrabnya mereka.

Waktu pun bergulir, malam pun menjelang. Tak terasa arloji menunjukan pukul 22.30. Dan rasa kantuk pun tak tertahan. Aku minta ijin tidur.

Subuh saat aku terbangun, ternyata mas Yuddy sudah berangkat ke Purworejo. Dia harus berangkat ke sekolah pagi-pagi agar tidak terlambat. Dan kehidupanku pun di tempat kost kembali berjalan seperti sedia kala.

Suatu malam saat melihat TV bersama Bapak-Ibu kost, Ibu kost bertanya: “Mbak Rina, menurut mbak Rina Yuddy itu bagaimana?”

“Maksud Ibu?”, balik tanyaku.

“Kira-kira masuk kriteria mbak Rina, apa tidak?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu dan bingung menjawabnya.

“Dari delapan anak Bapak dan Ibu, hanya Yuddy itu yang belum menikah,” lanjut ibu kost tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk menjawab pertanyaannya. “Padahal adik-adiknya sudah pada menikah. Bapak-Ibu bingung, apa yang ditunggu. Pekerjaan sebagai guru PNS ibu anggap sudah cukup mapan. Usia pun sudah termasuk dewasa untuk berkeluarga,” lanjutnya lagi menghela napas panjang-panjang. “Kalau mbak Rina mau, Bapak dan Ibu akan bahagia sekali punya menantu mbak Rina”, ucapnya lagi seolah memohon.

yuddy_rina_14_thn

Aku tidak pernah menjawab pertanyaan Ibu kost tersebut. Tapi sejak itu mas Yuddy jadi sering pulang ke rumah orang tuanya, dan kami pun jadi semakin akrab. Setengah tahun berikutnya aku dilamar, tepat satu hari setelah wisuda S-1 ku. Dan kini kami telah dikaruniai tiga orang putri yang cantik-cantik. Si sulung kami beri nama Ariendya Rizqianne Achsan, dimana nama Rizqianne adalah singkatan Rejeki Anak Negeri, karena pada saat dia lahir aku diangkat sebagai CPNS di SMP Negeri 8 Magelang, tempatku mengajar sampai sekarang ini. Anak ke-2 kami beri nama Ardaningrum Azzahra Achsan, dan ke-3 Asrinandya Rengganis Achsan. Arien sekarang kelas 7 SMP, Arda kelas 4 SD, dan Nanda TK besar.

Itulah sekelumit tentangku. Aku benar-benar bersyukur, bangga dan bahagia akan kehidupan sedherhana keluargaku. Allah SWT benar-benar memberi yang terbaik bagi kami sekeluarga.

Tahun 2006

Aku dan 3 bidadariku tgl.3 Nopember 2006


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post